Kamis, 05 November 2015

Cerita Romance







Sebenarnya Cinta Dengan Sebenar-benarnya
            Air mata telah membasahi pipiku, menangis dengan menjerit sekencang-kencangnya untuk merebut perhatian orang, entah siapa yang perduli pada gadis kecil sepertiku, menangis melihat kenakalan Dony dan kawan-kawannya, tapi Dony lah yang paling nakal, ia berusaha menarik melepas kerudung panjang ini dari kepalaku, sedang aku jongkok dengan tangan erat mempertahankan posisi kerudungku. Aku tak melakukan kesalahan, tapi Dony yang nakal, bocah itu berniat akan mengusap bolanya yang baru saja jatuh ke sungai, menggunakan kerudungku.
            Tangan kecil menarikku, aku merasa terselamatkan, aku tak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Siapa dia?
            Dengan tiba-tiba, tangan kecil meraih tanganku, menarikku berlari amat cepat, berlari begitu cepat hingga angin rasanya menembus tulang. Dony dan kawan-kawan meneriaki kami sambil mengejar kami berdua. Bagai tak mau melepaskan kami, kemanapun kami berlari, langkah kaki mereka masih terdengar jelas. Sesekali mengeluh lelah, namun bocah laki laki yang menarikku malah makin mengajakku berlari cepat dengan genggaman tangannya yang begitu erat tak pernah terlepas. Hingga akhirnya bocah itu, mengajakku berlari lebih cepat lagi sambil menolehkan wajahnya padaku. Mataku terbelalak melihat wajah laki-laki itu, siapa dia? Wajahnya begitu asing dipandang mata, tak pernah kujumpai wajah itu sebelumnya, jatungku berdegup kencang, aku masih terlalu kecil untuk mengetahui apa ini? jantungku berdetak tak karuan, entah sebab terlalu lama berlari atau lainnya.
            6 tahun kemudian,
            Kejadian yang lalu bak terulang kembali. Seperti dulu, laki-laki itu menoleh tiba-tiba seperti menghujam mataku. Ia menarik tanganku, kemudian ucapnya adalah istighfar, dengan segera ia melepas tanganku dengan kasar. Mulutku cukup membisu saat itu, tak ada kata terima kasih atau teriakan apapun, aku masih shock, truk besar nyaris saja menabrakku. Karena keteledoranku menyebrang jalan tanpa tengok kanan-kiri barusan, laki-laki itu memarahiku. Caranya memarahiku sungguh terlihat sungguh mencemaskanku, tapi gaya bahasanya sungguh tak dapat diterima batinku. Yang dapat aku lakukan setelah tersadar dari shockku hanyalah kesal, mengatainya cerewet sambil berlarian kecil, menjauhinya.
            Kami begitu akrab, dengan ransel merah yang sama dipunggung kami, ransel yang berat dan sesak akan buku-buku, seragam ciri khas kami putih abu-abu, siswa-siswi SMA. Berangkat dan pulang bersama, laki-laki yang berjalan bersamaku tapi dia berada diseberang jalan itu, berubah jadi dingin setelah dewasa kini. Mungkin ada seorang wanita yang ditaksirnya disekolah, hingga ia putuskan untuk jaga jarak denganku. Menyebalkan, seharusnya bocah itu bersikap biasa saja. Dalam otakku telah simpan nama seorang perempuan yang aku terka-terka, mungkin dialah orangnya. Teman sekelasku, dia cantik dan cerdas sekali, Swastika.
            Good bye Lutfi, see you later!” teriakku pada Lutfi.
            Aku perhatikanlaki-laki itu dengan detail hingga ia masuk ke dalam rumahnya, baru setelah itu aku juga masuk rumahku. Rumah kami bersebelahan, dia dan keluarganya pindah 6 tahun yang lalu. Aku dan ibunya sangat dekat, aku juga sering kerumah Lutfi, untuk mengobrol dengan ibunya. Ibunya baik sekali, karena ibunya Lutfi suka membuat kue, entah mengapa akulah orang pertama yang selalu diminta mencicipi kue-kue itu. Duduk di meja makan bundar di dapur rumah Lutfi. Menyenangkan. Kadang mengobrol hinggalarut malam bersama ibu Lutfi sambil mencomot kue dengan perlahan. Di akhir pembicaraan kami, selalu saja ibunya Lufti menanyaiku pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti hari-hari kemarin.
“Apakah Lutfi sudah menyatakan cinta padamu?” tanya ibunya Lutfi dengan senyum lebar.
Menyatakan cinta? Tidak mungkin, Lutfi saja tak pernah bersikap baik, tersenyum ramah, atau sekedar bersikap mencari perhatian padaku. Mendekatikupun Lutfi nyaris tak pernah.
Aku duduk diujung ranjang sore itu sepulang dari rumah Lutfi, sungguh tenang rasanya duduk sendiri di sini. Tanpa ada suara berisik, aku sedang menunggu adzan magrib berkumandang, karena saat-saat itulah yang paling kutunggu-tunggu setiap kali hari mulai gelap. Jika adzan sudah berkumandang, dari jendela kamarku yang lebar ini, aku pandangi jendela lebar kamar Lutfi.
One..Two..Three..Open now,” hitungku, saat adzan magrib mulai terdengar.
Aku berhasil, aku berdiri dan menepuki keberhasilanku. aku mengitung satu sampai tiga dan kudapati lampu kamar Lutfi menyala. Dengan tergesah-gesah aku berlari kekamar mandi mengambil air wudhu.
Mukena baru berwarna ungu kesayanganku, aku memakainya untuk pertama kali, mengenakannya saja aku perlu mengaca dikamar sambil berpose senyum-senyum, memang harus seperti itu, aku harus memilih senyum macam apa yang sekiranya disukai oleh laki-laki bernama Lutfi itu. Lamunanku buyar, teriak ibuku dari bawah membuatku buru-buru turuni tangga.
“Sholat maghrib, dimasjidkan?” tanya ibu aku mengangguk mantap. “Cepat berangkat, nanti dapat shof belakang, lho,”
Aku menghela nafas dalam-dalam, tak merasakah bocah itu jika sedang ditunggu oleh orang dibawah. Aku dan Ibu Lutfi tak sabar lagi melihat Lutfi turuni tangga. Berkali-kali ibunya berteriak, agar Lutfi segera turun, tapi tak digubrisnya. Sungguh mati aku akan menyalahkan bocah itu, jika sampai di masjid nanti kami tak termasuk dalam jama’ah sholat maghrib.
“Lutfi lama sekali, sedang apa dia?” keluhku. “Bibi, boleh tidak aku kekamar Lutfi dan marah-marah?” tanyaku, langsung diiyakan oleh ibu Lutfi, beliau mengangguk saja. Segera aku berlari naiki tangga sambil mengerang memanggil-manggil nama Lutfi.
“Huuuaaaaaaaaaaaaaa,” jeritku.
“Hahahahaha,” tawa Ibu Lutfi disepanjang jalan pulang dari sholat berjama’ah di masjid. Sedangkan aku hanya dapat menutupi mulutku dengan mukenah, sembunyikan juga kedua pipiku yang mulai memerah.
“Kamu lucu sekali,” kata Ibu Lutfi sambil menyikut bahuku pelan. “Gitu aja pake teriak, gak apa-apa kali kalau lihat Lutfi telanjang dada, kan gak semuanya telanjang,”
“Lain kali, aku ajari ketuk pintu ya, adik kecil,” jelas Lutfi sambil mengetuk-ngetuk pelan kepalaku. “Lihat aku, tangan digumpalkan, kemudian ketuk pintu, tok..tok..tok, lalu yang ada didalam akan mengerti, mempersilahkan masuk atau tidak ya tergantung situasi, terserah pemilik kamar,” bentak Lutfi dengan pelan, menahan emosi.
Aku rebahkan tubuhku ke ranjang, dengan sedikit membanting tubuh sendiri dengan kasar. Muak aku malam ini, mukena ungu masih melekat dikepalaku, tapi bangkit rasanya tak sanggup, berat akan rasa malu, sudah cukup malu aku hari ini, niatnya ingin tersenyum ramah pada laki-laki itu, tapi malam membuatnya marah malam ini. Serba salah. Entahlah, aku sudah cukup lelah dengan hanya memikirkannya. Aku coba pejamkan mata. Membiarkan lamunan panjangku membawaku terlelap diatas ranjang, dibawah cahaya lampu gantung kamarku.
Aku mengayun-ayunkan tanganku ke kanan-ke kiri. Membayangkan mukena ungu ini adalah sayapku dan menengok tiba-tiba ke arah belakang, melihat Lutfi rapi dengan peci dan sarungnya, wajahnya yang putih bersih seperti bercahaya di sinari lampu kota jalanan, wajahnya tanpa ekspresi menatapku. Lalu membuang muka dengan pipi yang telah memerah sejak lama.
Rizky Nastiti Adinda P.